Menangkap Angin Semangat Kaum Hijau dari Wellington

  • May 14, 2016

13124910_281905605485810_4140186087912533278_n

Kia Ora! Untuk orang Indonesia yang terbiasa hidup dalam temperatur 30-40 derajat celsius, cuaca Wellington pada Juni ini sangat tidak bersahabat. Indonesia memang memiliki kota-kota yang terletak di dataran tinggi dan bersuhu dibawah 10 derajat celsius – yang mirip dengan Wellington. Namun, Wellington tidak saja dingin, kota ini juga sangat berangin. Angin Wellington rasanya seperti menusuk tulang. Tanpa pakaian penghangat, tubuhmu bisa menggigil dan mulai merasa beku.

Meski demikian, dinginnya Wellington tersebut tak mampu taklukan hangatnya pertemuan aktivis politik hijau se-Asia Pasifik. Sepertinya, hati kaum hijau tersebut memiliki perisai anti beku. Pijar cinta dan kerinduan akan “tata dunia hijau” yang membara dari dalam hati tersebut, membuat mereka kebal dari suhu yang rendah dan angin yang nakal. Walhasil, dalam tempo empat hari, kaum hijau Asia-Pacific sukses membulatkan tekad dan menetapkan sikap untuk kemajuan politiknya. Dan semua hanya dimulai dari kebesaran hati seluruh partisipan.

Dan terutama sang tuan rumah.

Warga Wellington sepertinya tahu bagaimana mengantisipasi cuacanya. Mereka telah membayar dinginnya kota dengan keramahan dan ketulusan hati. Ini amat terlihat dari apa yang telah mereka lakukan untuk Kongres ke-3 Federasi Asia-Pasifik Kaum Hijau (APGFC) itu. Mulai dari Walikota Wellington (Celia-Wade Brown), para panitia (Keli Yen, Claire Waghorn-Lees, Maree Brannigan dan teman-temannya), para pegawai Silverstream Retreat-Upper Hutt hingga Hotel Waterloo Backpackers. Mereka telah menampilkan orkestra persahabatan pada kami semua. Pun, pendapat ini bukanlah sesuatu yang berlebihan, karena pada saat yang bersamaan, mereka juga sukses sebagai tuan rumah untuk Piala Dunia U-20.

Dalam skala Asia-Pasifik, kaum hijau Selandia Baru memang tengah bersemangat. Saat ini, Partai Hijau Aotearoa Selandia Baru berhasil meloloskan 14 anggotanya menjadi anggota House of Representative (10,7%). Angka ini mengantarkan mereka menjadi partai terbesar ketiga di Selandia Baru. Urutan yang sama juga diperoleh Partai Hijau Australia. Mereka meraih 8,65 % dari pemilihan umum pada 2013 dan meloloskan 10 anggotanya ke Senat dan 1 anggotanya ke House of Representative. Dengan fakta tersebut, saya hanya bergurau, tapi mungkin ada benarnya jika kita menganggap Wellington kemarin seperti ibukota kaum hijau se-Asia Pasifik! :))

Untuk itu, pantas untuk kita sampaikan “whakawhetai ki a koutou” untuk Wellington!

Kiprah Delegasi Indonesia (Sarekat Hijau Indonesia dan Partai Hijau Indonesia)

Dalam acara ini, delegasi Indonesia diwakili oleh Ade Zuchri Indriani, Diana Goeltom dan John Muhammad. Meski hanya John yang mewakili Partai Hijau Indonesia (PHI), kami bertiga datang mewakili Sarekat Hijau Indonesia (SHI). Sebab, yang terdaftar menjadi anggota APGF adalah SHI. Dan, bagi SHI, ini adalah kelima kalinya berpartisipasi di APGF dan Global Greens.

Kiprah delegasi Indonesia dalam pertemuan kaum hijau internasional sebenarnya dimulai dari Kongres Global Greens ke-1, 2001 yang diselenggarakan di Canberra, Australia. Waktu itu, Indonesia diwakili oleh Farah Sofa. Tapi, pada Kongres Asia Pasific Greens Network ke-1, di Kyoto, Jepang, Indonesia absen.

Baru kemudian pada Kongres Global Greens ke-2, 2008 di Sao Paolo, Brazil, Indonesia datang dengan diwakili oleh Andreas Iswinarto dan Adriana Sri Adhiati. Pada Kongres Asia Pasific Greens Network ke-2, 2010 di Taipei, Taiwan, Indonesia mengutus Andreas Iswinarto, Adriana Sri Adhiati dan Khalisah Khalid. Pada Kongres Global Greens ke-3 di Dakar, Senegal dihadiri oleh Adriana Sri Adhiati dan Khalisah Khalid.

Pada September 2014 lalu, dua deklarator PHI yakni: Dian Abraham dan Khalisah Khalid menerima undangan dari Partai Hijau Negara Bagian Australia Barat. Dalam perjalanan tersebut, mereka belajar tentang mekanisme politik dan manajemen Partai Hijau. Catatan perjalanan tersebut dapat diikuti pada tautan ini.

Jadi dengan rendah hati, harus diakui pengalaman kami sangat minim dalam acara ini. Kami semua baru pertama kali ke acara ini. Meski begitu, sebelum berangkat, kami tetap dibekali banyak pengalaman oleh Adriana Sri Adhiati, Andreas Iswinarto, Dian Abraham, Koesnadi Wirasapoetra, Khalisah Khalid dan kawan-kawan lainnya (Thank you, greens!).

Untuk kongres ini, kami memfokuskan pada dua isu dalam perubahan iklim. Yakni, penyertaan inisiatif lokal dan pembangunan demokrasi akar-rumput. Isu-isu hijau lain juga penting, hanya saja kami memilih untuk mengingatkan kembali pentingnya penyertaan inisiatif lokal dalam proyek-proyek keadilan iklim global, terutama di Indonesia. Sementara, isu demokrasi akar-rumput diperlukan saat ini untuk memberi perhatian khusus pada pembangunan politik hijau di tingkat lokal. Rancangan ini kemudian menjadi selesai pada 10 Juni 2015, dengan judul Call from Indonesia for Climate Justice.

Pandangan ini kemudian dibacakan oleh Ade Zuchri pada pembukaan APGFC. Tanggapan peserta lain pada pandangan ini cukup baik, hal ini dapat dilihat dengan disetujuinya isu penyertaan inisiatif lokal menjadi salah satu resolusi APGFC. Secara umum, partisipasi Indonesia dalam APGFC belum dapat dikatakan optimal. Kongres berlangsung sangat dinamis sehingga ada banyak kelompok kerja. Setidaknya ada tiga jenis kelompok kerja dalam APGFC.

Pertama, pokja konstitusi yang membahas tentang organisasi APGF. Pokja ini wajib diikuti oleh setiap delegasi. Kedua, Pokja Partai yang membahas tentang segala hal tentang pembangunan Partai Hijau, mulai dari strategi pendanaan sampai dengan strategi kampanye. Ketiga, Pokja Isu atau Resolusi yang membahas tentang isu-isu prioritas yang perlu diangkat sebagai resolusi APGF. Total sub Pokja ini sangat banyak bisa sampai lebih dari 10 kelompok. Dengan jumlah anggota delegasi hanya 3 orang, maka akan sulit untuk mengikuti semua isu.

Akibatnya, kami hanya memfokuskan pada beberapa Pokja, diantaranya adalah: Pokja Konstitusi, Pokja Resolusi, Pokja Pengembangan APGF 2015-2019, Pokja Resolusi untuk Inisiatif Lokal, Pokja Pembangunan Partai Hijau dan Pokja Penggalangan Dana. Diluar itu, meski tidak terlibat secara langsung, kami juga memberi perhatian pada pokja-pokja lain seperti resolusi untuk penolakan energi nuklir, penolakan hukuman mati sampai dengan mendorong solusi untuk Papua.

Dari seluruh rangkaian yang diikuti oleh kami, terdapat beberapa hal yang menarik untuk dipelajari dan dikembangkan di Indonesia. Pertama, kultur politik hijau Asia-Pasifik yang sangat khas dan sangat berbeda dengan kultur politik (terutama) di Indonesia. Suasana egaliter amat menonjol dalam kultur politik hijau. Tidak ada pengawalan atau ajudan untuk pejabat seperti Walikota dan anggota Parlemen. Tidak ada jarak sosial antara kita semua. Baik yang sudah maju maupun dengan yang masih merintis Partai Hijau. Secara pribadi saya terkesan dengan Kennedy Graham, ketika dalam pidatonya, ia melibatkan penerjemah bahasa isyarat.

Kedua, kultur organisasi yang guyub, sederhana dan efisien. Untuk acara sebesar ini, tidak ada kepanitiaan yang besar layaknya event-event politik di Jakarta. Tidak ada asisten delegasi. Semua hal dikerjakan secara sukarela dan bersama-sama. Semua informasi dan perubahannya ditaruh di papan pengumuman. Mulai dari jadwal rapat sampai dengan informasi tebengan dan kehilangan barang. Para delegasi mengurus segalanya sendiri mulai dari menata meja suvenir sampai dengan menyiapkan presentasi.

Ketiga, kesungguhan dalam mempraktikan gaya hidup hijau. Hal ini nampak dalam penyajian makanan vegetarian. Terdapat dua jenis vegetarian food: (1) vegetarian biasa dan (2) vegetarian khusus (bebas susu ternak dan bebas dari pemanis buatan). Kedua makanan ini enak dan terutama untuk yang vegetarian khusus, rasanya tetap nikmat. Namun, karena lidah kami masih kecanduan bumbu, maka perlu ada penyesuaian.

Keempat, berbagi pengalaman pembangunan politik hijau dari berbagai negara membuat kami semakin termotivasi. Terutama mendengar dan mempelajari kesulitan maupun kesuksesan dari berbagai negara. Semua pengalaman tersebut semakin membuat kami optimis untuk mewujudkan Partai Hijau di Indonesia.

13320990_300014770341560_2839658084338433238_o

13339512_300014937008210_2197460450617582136_n

diana

Pembelajaran bagi Partai Hijau Indonesia

Salah satu pembelajaran yang menarik adalah bagaimana struktur partai politik tidak melulu seperti yang kita lihat selama ini. Partai Hijau Selandia Baru misalnya, memiliki kepemimpinan ganda berbasis gender, yakni perempuan dan laki-laki yang disebut co-leader. Partai Hijau Australia Barat misalnya, tidak mengenal voting, melainkan mempraktikan konsensus.

Pengalaman untuk bertemu, berbagi dan berdiskusi dalam APGF Congress ini semakin mempertebal semangat kami yang hendak membangun PHI, terutama menyongsong Pemilu 2019. Kami sadar bahwa prasyarat elektoral yang saat ini berlangsung tidak mudah dan tak jarang dianggap mustahil untuk dipenuhi. Tak jarang muncul keraguan, lecehan dan bahkan ketakutan mengepung langkah kami. Kami pun paham bahwa citra partai politik saat ini kurang baik. Tapi menyerah sebelum mencobanya adalah salah dan keliru.

Ikhtiar kami saat ini tidak muluk-muluk. Kami cukup membuktikan membangun partai politik yang berbasis ide adalah mungkin. Kami hanya ingin memuliakan kembali partai politik. Kami hanya ingin melindungi-mengawal orang-orang baik dan kaum hijau untuk mendapatkan ruang politik yang layak. Kami hanya sekadar mempraktikkan demokrasi akar-rumput dalam memperjuangkan politik hijau yang cerdas dan menegakkan politik etik. Sebaliknya, kami yakin bahwa tanpa partai politik yang benar maka bukan saja orang-orang baik tersebut tersingkir dan lebih parah lagi, asa perubahan itu akan semakin meredup.

Dalam upaya mengatasi perubahan iklim dan dalam kondisi kepemimpinan politik di Indonesia yang masih jauh dari nilai-nilai hijau, keberadaan Partai Hijau Indonesia menjadi mendesak. Dalam berbagai kasus, oligarki partai terus menghambat kepemimpinan orang-orang baik dan kerja-kerja kaum hijau di Indonesia. Sehingga, tak ada pilihan lain selain membangun Partai Hijau Indonesia sedini mungkin untuk menyelamatkan orang-orang baik serta mempromosikan kaum hijau.

Hembusan angin kaum hijau dari Wellington ini harus dipelihara dan dipupuk. Kaum hijau Indonesia harus dapat memanfaatkan angin ini untuk membebaskan Indonesia dari kesengsaraan lingkungan. Angin yang juga akan menerbangkan kebanggaan Indonesia sebagai “paru-paru bumi” bersama negara-negara hutan hujan tropis lainnya. Angin yang hanya akan terus ada jika kaum hijau Indonesia bersatu.

Angin yang sama sekali tidak dingin. Angin yang hangat, menyegarkan dan menyenangkan.

Angin persahabatan.

Angin perubahan.

phi

Catatan redaksi:

  1. Ditulis oleh Diana Goeltom & John Muhammad
  2. Tulisan ini telah diterbitkan di situs resmi kaum hijau sedunia pada 26 Juni 2015.